Pages

Tuesday, April 28, 2015

Mission Acomplished: Ekonomi

Hari ini yaitu hari selasa, gue dihadapkan dengan sebuah misi tak terduga ketika pulang sekolah. Ternyata tugas ekonomi kelompok yang harus dikumpulkan hari ini belum selesai dan masih sangat banyak. Awalnya kita mengerjakan bersama-sama, hingga tersisalah 3 orang, yaitu gue, Alifia aka Yayas dan Abdul atau Rahman atau Bang Man. Kami ber-tiga berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan misi ini, karena taruhannya adalah nilai ekonomi. 

Hingga akhirnya... WHALAA selesai juga nih tugas ekonomi. Akhirnya tiga orang ini segera merapikan laptop dan menuruni tangga secepat mungkin, Jangan sampai misi ini tidak terselesaikan. Kami pun berlari dari gerbang menuju tukang fotokopian dekat sekolah dengan membawa kunci keberhasilan misi, yaitu FLASHDISK. Gue dan teman-teman seperjuangan lari secepat mungkin. Sayangnya sang pembawa flashdisk berlari sangat lamban yaitu rahman. Gak juga sih, si yayas paling belakang dan dia tertawa-tawa.

Akhirnya gue sebagai orang paling depan merebut paksa flashdisk itu dari Rahman dan berlari secepat kilatan udara hingga sampai di tukang fotokopian dengan terengah-engah. Gue langsung mencolokkan flashdisk tersebut ke 3 lobang colokan yang tersedia. Ditengah-tengah proses perjuangan (read: print), si Yayas tiba-tiba sudah duduk di dalam angkot sambil dadah-dadah. Ya, tersisalah kami, dua pejuang terakhir, gue dan rahman. 

Gue yang lelah kemudian duduk di sebuah kursi merah yang biasa lo temui di tempat makan mie ayam. Kemudian menunggu print-an agar cepat selesai dalam keheningan yang mencekam. Berbagai pikiran negatif mengisi kepala gue, "Gimana kalo Pak Herman udah pulang?" "GIMANAAA?" nggak deng. Gue cuma khawatir aja kalo Pak Herman udah pulang titik.

Setelah beberapa lama, print-an tugas kami pun selesai. Tahap terkahir-pun segera kami laksanakan, gue dan Rahman segera berjalan cepat (karena udah gak kuat lari) layaknya orang jogging agar cepat sampai sekolah. Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang guru dari sekolah kami. Setelah salim kami langsung melanjutkan jalan cepat. 

Inilah saat-saat penentuan, ketika kami telah sampai di ruang guru, Rahman sebagai lelaki sejati memasuki ruangan sambil membawa hasil dari jerih payah kelompok kami. Tapi sayang seribu sayang, Pak Herman tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia telah kembali ke rumahnya untuk menemui keluarga tercintanya. Yah sudahlah, kami taruh saja tugas itu di bawah keyboard komputer dia. Dan misi terselesaikan

Alhamdulillah. :")

5 comments:

  1. Cie ekonomi nih.. Sekelompok sama Bang Man lagii..itu rahman kan nin?

    ReplyDelete
  2. Ceritanya anak ips banget gitu, HAHAHAHAHA, iyaa bang man itu rahman:")

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. HAHAHA. Semangat nina di 65 nya... :)

    ReplyDelete
  5. HAHAHA. Semangat nina di 65 nya... :)

    ReplyDelete